Jumat siang, Maudiya menjatuhkan ransel birunya ke lantai. di kamarnya yang sudah terkunci, ia mengganti pakaian dan mencopot aksesoris yang dikenakannya. ini hari terakhir ia menjalani kelas pelatihan wajib bersertifikat yang harus ia dapatkan sebagai salah satu persyaratan skripsi. yah, walaupun, saat ini ia baru akan memasuki semester 3. dirinya termenung dan seketika terlintas wajah Barra di pikirannya. "Astaga!!! jangan! jangan please jangan..." ia menepuk-nepuk pipinya agar tersadarkan dari lamunannya. cowok itu sedang dekat dengannya beberapa lama ini, satu kelas dengannya waktu semester 1, sering sekelas waktu semester 2 kemarin, dan sekelas lagi saat kelas pelatihan 1 minggu terakhir ini.
Barra, cowok yang manis, asik, dan gampang bergaul dengan semua orang. Maudiya ingat pertama kali ia kenal Barra, sebelum semester 1 dimulai, Barra memfollow twitter Maudiya dengan mention "followback ya, gue kelas D juga nih". karena merasa belum kenal siapa-siapa di kampus baru, dan mungkin Barra tau Maudiya kelas D karena sebelumnya Maudiya quoteretweet tweetnya official akun jurusannya, maka Maudiya memfollback Barra. enggak lama Barra mengirimkannya direct message bertuliskan "hai, boleh tolong fotoin jadwal kuliah kita gak? thanks". selintas Maudiya berfikir: 1)ini orang sksd amat 2)ini orang kemana aja sampe belum punya jadwal kuliah. ya, tapi itulah Barra. Maudiya mengirimkan jepretan foto jadwal kuliah kelas D. dua menit kemudian Barra balas "makasihh", dan konversation pun selesai.
memasuki kuliah semester 1, ia akhirnya melihat sosok asli Barra dan 1 hal yang langsung mencuri perhatiannya: vans. Barra mengenakan maroon vans authentic, sneakers favorit Maudiya. bisa dibilang Maudiya cewek pecinta sneakers sejati, ia melihat orang bukan dari wajah atau pakaiannya, tapi dari sepatunya. dan ia selalu meningkatkan % ketampanan cowok yang memakai vans. misalnya, ada cowok yang enggak terlalu ganteng, gaya pakaiannya biasa, ketampanannya bisa diukur 50%. tapi, setelah dilihat lagi ternyata cowok itu pakai sepatu vans, maka ketampanannya meningkat menjadi 65%. itulah teori ketampanan menurut Maudiya. dan, bisa dibilang, itu adalah tingkat ketampanan Barra, 65%.
sebagai teman sekelas dan sudah-saling-follow-twitter, Maudiya dan Barra tidak akrab sama sekali. mereka jarang bertegur sapa, saling senyum, apalagi ngobrol. walaupun Barra cowok supel. mungkin karena Maudiya cewek introvert dan susah berteman dengan lawan jenis. keakraban mereka hanya sampai Barra pinjem tipe-ex, dan Barra ikut-ikutan tertawa saat Maudiya asik bercanda sama teman se-gengnya.
semester 1 berlalu, berganti dengan semester 2, kelas baru, teman baru. sistem perkuliahan yang mengharuskan tiap kelas dipisah-pisah dan diatur ulang. setiap mata kuliah berganti kelas yang berarti berganti juga teman-teman sekelasnya, sangat memungkinkan untuk Maudiya melakukan hal yang cukup berat baginya: bersosialisasi (ulang). sistem itu membuat Maudiya dekat dengan anggota kelas D lain yang sekelas di kelas-kelas barunya, termasuk Barra. ia mendapat 3 mata kuliah yang sekelas dengan Barra. tingkat keakraban mereka semakin meningkat, sampai Barra punya panggilan khusus untuknya: Peri Kehidupan.
pekan itu, pekan uas semester 2. tepatnya, hari itu uas pengantar ekonomi makro. Maudiya sekelas dengan Barra dan duduk bersebelahan sesuai dengan nomor absen; Maudiya Raisandry, Mohammad Barra. di pertengahan waktu, Barra terlihat mulai bingung dan kesusahan. Maudiya bisa merasakan gerak-geriknya dari ujung penglihatan. Barra berbisik memanggil Maudiya "Mod.. Moood...", Maudiya setengah menengokan kepalanya. "nomor 1, please..." merasa sedikit iba, Maudiya mendiktekan sebagian jawaban essainya. dan selanjutnya Barra menanyakan jawaban beberapa soal lagi kepadanya. Maudiya memperlihatkan lembar jawabannya setengah, diam-diam. Barra termasuk orang yang pintar dalam mencontek. dia mencontek dalam kesunyian, dan tidak mengganggu sang pemberi contek. maka dari itu Maudiya gampang saja memberikannya bocoran jawaban. setelah selesai, Maudiya mengumpulkan lembar jawaban lebih dulu daripada Barra. ia keluar dan ngobrol dengan beberapa teman kelas D. lima menit kemudian Barra keluar dengan wajah sumringah dan berseru: "Peri Kehidupankuuuuuuu!!!!!!!!!" sambil meregangkan kedua tangannya, hampir ingin memeluk Maudiya yang sedang duduk. Maudiya menatapnya kaget sambil sedikit menyingkir, menghindar dari regangan tangan Barra. "Maudiya emang bener-bener Peri Kehidupan gue, makasih..." Maudiya mengangguk tersenyum. yang lain tertawa mendengar Barra bercerita gimana suasana uas tadi, gimana dia ngeblank dan enggak tahu harus nulis apa, dan gimana dia bisa nyontek ke Maudiya. "besok kita uas apa? pengantar akuntansi ya? kita sekelas lagi ya?? yes!!! gue tag-in tempat ya besok buat lu, Mod!" "ohh oke." Maudiya menjawab singkat sambil tersenyum, lalu pamit pulang duluan. di perjalanan Maudiya tak bisa berhenti memikirkan: 1)Barra manggil gue Peri Kehidupan 2)rasanya aneh 3)gimana ini 4)apa yang harus gue lakukan?? 5)engga boleh baper 6)dia baik ke semua orang 7)dia punya cewek. dan pikiran Maudiya pun berhenti sampai di poin terakhir.
keesokan harinya, takdir berkata lain. commuter line tujuan kampus yang harus ditumpangi Maudiya mengalami keterlambatan sehingga menyebabkan Maudiya sedikit terlambat masuk kelas. Maudiya berlari-lari kecil menuju ruang ujian, dan sesampainya disana hanya tersisa 1 baris depan yang kosong. kursi spesial yang di tag Barra untuknya sudah diduduki orang lain. Maudiya tak terlalu memperdulikannya, ia mengeluarkan alat tulis, berdoa, dan mengerjakan soal. dua jam kemudian, waktu berakhir dan para mahasiswa/i satu persatu mengumpulkan lembar jawaban lalu keluar ruangan. Maudiya adalah anggota kelas D pertama yang keluar. ia menunggu teman-teman yang lain di depan pintu. tidak lama setelah itu munculah anggota kelas D, dan tentunya, Barra. Maudiya dikejutkan dengan kehadiran Barra yang tiba-tiba menarik tangannya dan berkata "Peri Kehidupanku lu kenapa telatttt??? gue udah tag-in kursi buat lu di depan gue tapi keburu didudukin orang...." anggota kelas D lain memperhatikannya. "commuter linenya... telat, jadi.. gue telat. hehe" Maudiya mencoba menjelaskan dengan maksud tidak membuat Barra marah. Barra sedikit merengut. Maudiya mencoba untuk tidak memperdulikan. lagipula masih ada Wicky dihatinya. kisah lama masa SMA yang masih belum bisa dilupakan.
awalnya Maudiya mengira kisah 'TemenNyontek-Zone' akan berakhir pada pekan uas semester 2 itu. ternyata tidak, setelah mengetahui bahwa dirinya berada di kelas yang sama dengan Barra, kelas pelatihan akuntansi dagang. hari pertama, Barra setengah kaget saat masuk dan melihat Maudiya duduk di depannya. "Peri Kehidupan?? ada Peri Kehidupan gue disini??? Alhamdulillah..." Maudiya tersenyum. setelah mendapat teori akuntansi dagang yang cukup rumit dan memusingkan kepala, Barra memohon kepada Maudiya agar besok mau duduk disebelahnya, untuk mengajarkannya. Maudiya mengiyakan. keesokan harinya, Maudiya mendapat message line darinya "Mod, udah sampe?" awalnya Maudiya sedikit deg-degan namun mencoba untuk tidak baper. "belum Bar, lo?" "udah, masih di luar". Maudiya membaca pesan Barra ketika sampai di kampus. Barra duduk di depan pintu kelas bersama anggota kelas D dan ketika melihat kedatangan Maudiya dirinya langsung berdiri mengikuti Maudiya masuk ke dalam kelas. anggota kelas D lain berseru "modus lo Bar!" Maudiya tidak mendengarkan. empat hari berturut-turut duduk bersebelahan dengan Maudiya membuat Barra bertambah pintar. Maudiya mengajarkan materi yang belum dimengerti Barra dengan sabar. begitu pula Barra memperhatikan ketidaktelitian Maudiya saat mengerjakan jurnal akuntansi dan membantu mengoreksinya. mereka membentuk tim: Peri Kehidupan dan Asistennya. kalau ada teman yang memanggil Maudiya untuk bertanya, Barra yang menjawabnya. kalau Maudiya terlihat sangat berkonsentrasi, Barra bisa sangat galak kepada orang lain yang mau bertanya. "nanya orang lain aja, jangan ganggu Peri Kehidupan gue yang lagi konsentrasi!" tanpa sadar Maudiya menyimpulkan senyum di bibirnya. sepulangnya, Maudiya kembali berfikir: 1)kenapa Barra enggak pernah malu manggil gue Peri Kehidupannya di depan anak kelas D lain? 2)kalo mereka bikin gosip gimana?. tapi kemudian fikiran itu hilang lagi, dan kembali pada rasa kangen kepada Wicky, yang Maudiya tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang.
siang itu, sepulang pelatihan hari kedua, Maudiya asik melihat timeline sosial media line-nya. ia berhenti meng-skroll ketika melihat nama Barra dan fotonya bersama seorang perempuan. cantik. dan Barra... terlihat lebih ganteng. mungkin bisa dipertimbangkan kini ketampanan Barra 70%. mereka sama-sama pakai baju warna pink. foto itu bercaption "udah kayak couple belum?". Maudiya berfikir 1)dasar pinky boy 2)ya, mereka cocok. dan kemudian mencoba berhenti memikirkan hal itu. keesokan harinya, Maudiya mengenakan kerudung pink favoritnya. tanpa disangka, Barra mengenakan baju pink yang ia pakai di foto itu. salah satu anggota kelas D berseru "cie Peri Kehidupan sama Asistennya warna kerudung sama bajunya samaan cie.." membuat Maudiya dan Barra saling memperhatikan satu sama lain. Maudiya hanya tersenyum. "besok kita pake baju samaan yuk Mod!" "yuk!" "lu punya baju warna ungu gak?" "hmm punya.." Maudiya mengiyakan. tapi pada besoknya, tidak ada dari mereka yang mengenakan baju berwarna ungu.
dua hari kemudian, hari terakhir pelatihan, Maudiya mengenakan kaos panjang berwarna pink cerah dan kerudung biru tua. "yah kok kita hari ini gak serasi sih bajunya??" "iya Bar, gimana sihh?" "eh tapi gue ada biru-birunya sih sama kayak kerudung lo.." Maudiya memperhatikan kemeja kotak-kotak berwarna dasar hijau tua dengan garis biru tua yang dikenakan Barra. "eh iya ya, ada birunya dikit.." "harusnya lo pake baju ini pas gue pake baju pink kemaren, Mod." "oiya. yaudah sana lo balik lagi ganti baju, hehe" "lo kata rumah gue belakang kampus!" disusul gelak tawa Maudiya yang sedikit dipaksa. belakangan Maudiya tahu Barra ke kampus mengendarai mobil. walaupun ia tak tahu dimana rumahnya. entahlah, Maudiya merasa tidak perlu tahu dan tidak mau tahu. semua ini, cowok ini, memori ini, rasanya tidak perlu difikirkan dalam-dalam dan tidak perlu digunakan untuk menutup lubang kisah lama masa lalu bersama Wicky, karena sesungguhnya, takkan pernah bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar