Translate

Jumat, 21 Maret 2014

Kelas Unggulan Pertamaku Bersama 'Mereka'


"jadi gini rasanya..." gumam Nadrisca dalam hati, kepalanya tiada henti menengok kanan kiri, melihat sekeliling, suasana baru di kelas baru, kelas C. kelas Matematika unggulan. ini adalah pertama kalinya Nadris berada di kelas unggulan. berkumpul bersama siswa-siswi hebat dari 2 kelas lainnya, dalam 1 ruangan.
kali itu, masih dalam pekan Ujian Sekolah, Bu Tati, guru Matematika Nadris yang menjadi pengawas. serentak semua anak-anak bertanya, bagaimana hasil jerih payah mereka, padahal waat itu kita akan memulai ujian untuk mata pelajaran lain. tapi akhirnya Bu Tati mengumumkannya kepada kami. Bu Tati menyebutkan satu persatu hasil ujian kami dari absen teratas, nilai kelas kami sangat menakjubkan. banyak yang mendapat nilai 9 keatas, bahkan ada 5 orang yang mendapat nilai 10. "Nadrisca, 9!" deg. Nadris bengong. sepertinya Bu Tati menyebut angka sembilan tadi.... ya, sembilan..... "UJIAN SEKOLAH MATEMATIKAKU SEMBILAN YA ALLAAAHHHHHH........................" Nadris tersenyum tiada hentinya, bersyukur kepada Tuhan, telah mengabulkan doanya, bahkan melebihi dari target nilai Matematikanya. fix, Nadris masuk kelas C. kelas unggulan. jadi seperti ini rasanya, berada di kelas unggulan, Matematika pula. Nadris deg-degan. mungkin sedikit berlebihan, tapi ini memang kali pertamanya. dan jantungnya tambah deg-degan 1000x lipat karena dia harus disatukan dengan Binno dan Dipta.
Binno, adalah sesosok laki-laki yang disayanginya kurang lebih hampir 2 tahun. teman 1 ekskul dan 1 jurusan. Binno, laki-laki yang pintar, selalu rangking 3 besar di kelasnya, supel dan ramah sehingga tak sedikit anak perempuan yang dekat dengannya. kulit hitam manis, chubby, humoris, keliatan seperti anak kecil tapi sebenarnya dia sangat dewasa dalam menyikapi masalah. Nadris sudah kenal lelaki ini luar dalam, dulu mereka sangat dekat, karena masih terikat 1 organisasi. 1 tahun bersama, rasanya masih biasa. menjelang tahun kedua, ada yang aneh. Binno mulai memperlakukan Nadris dengan tidak biasanya. "Kenapa ini? kenapa seperti ini?" Nadris bertanya dalam hati, keheranan. namun ia menikmatinya. ia biarkan rasa itu terus mengalir, meski awalnya takut, ia sangat takut jatuh terperangkap dalam rasa 'itu'. tapi tetap tak bisa ia lawan. dan akhirnya... ia 'terperangkap' dan belum bisa keluar sampai sekarang, telah menginjak tahun ketiga sekolah, tinggal 2 bulan lagi waktu di SMA akan berakhir. ia tak tahu, akan sampai kapan ia terperangkap. tak ada yang bisa menyelamatkannya, selain keberanian dan kejujuran dari hati masing-masing. ia masih terus menunggu. menunggu sampai Binno benar-benar hilang dari hati dan ingatannya. tapi itu sulit, bagaimana bisa kita melupakan seseorang yang sudah sangat dekat sehingga menjadi bagian dari diri kita, bagaimana bisa kita melupakan seseorang itu sementara dia masih ada di 1 lingkungan dengan kita? Entahlah. dan kemudian, Nadris mencoba fokus. fokus terhadap ujian, fokus terhadap masa depan. seperti yang Binno sedang lakukan.
dan kemudian, Nadris bertemu dengan Dipta. sebenarnya, Nadris lebih dulu bertemu dengan Dipta daripada Binno. ya, Dipta adalah teman sekelas Nadris. hampir 3 tahun 1 kelas bersama Dipta, rasanya biasa. hingga memasuki akhir semester 5, tiba-tiba rasa aneh itu muncul. "Apa ini? Gak mungkin." Nadris mencoba menyangkal perasaannya, tapi sulit. akhir semester 5 yang aneh, dan itu terbawa sampai sekarang. Nadris duduk bersama Dipta. saat itu sistem kelas masih pakai rolling tempat duduk. memasuki rolling tempat duduk yang ketiga kali, tidak disangka tidak diduga Nadris duduk bersama Dipta. Ok, it's ok. Enak malah duduk sama Dipta, pinter MTK. pikir Nadris awalnya. ya, enak duduk sama Dipta. awalnya, Dipta memang tidak banyak bicara. Dipta adalah sosok lelaki yang cukup aneh dimata Nadris. kesukaannya di pelajaran Matematika dan IPA, dia suka baca buku rumus MTK yang tebal, buku ensiklopedia biologi yang super tebal, dan kalau baca buku pasti sambil mendengarkan lagu dengan headset dikupingnya, yang sebetulnya, gak akan singkron apa yang kita baca dan apa yang kita dengar. tapi dia bisa menelan habis rumus-rumus yang dia baca dengan seperti itu. keanehan lainnya, dia sangat menggemari film anime dan games. bisa berpuluh-puluh episode sinema anime dia habiskan 1 malam. dan hobi lainnya yaitu main dota bersama anak laki-laki lain di kelas. tak peduli hari ujian atau tidak, gak ada yang bisa berhentiin egonya dia. ya, itu salah satu kejelekannya, egonya besar. keras kepala. dan sebetulnya Nadris sangat anti laki-laki keras kepala seperti itu. tapi, ada saja beribu alasan yang membuat Dipta bagus dimata Nadris. seperti Binno, Dipta juga hitam manis, pintar, bedanya Dipta kurus tinggi menjulang, rambut keriting yang gak pernah dibiarkan panjang. kalau panjang sedikit,dia pasti langsung mencukur rambutnya. hidung mancung yang katanya blasteran arab, mata sipit, alis tebal, kumis tipis.... ahhh itu semua favorite Nadris. sebetulnya Dipta mempunyai kelebihan dimata Nadris yang Binno gak punya. postur tubuh. Nadris sangat suka postur tubuh Dipta. ya, Nadris menyukai laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya. Nadris juga menyukai telapak tangan Dipta yang lebar dan besar, melebihi ukuran telapak tangannya yang sedikit lebih lebar untuk ukuran perempuan. ada lagi, Nadris sangat menyukai suara hembusan nafas Dipta. duduk bersama Dipta, membuat mata Nadris terbuka. Dipta adalah sosok yang spesial. setiap detik ia bisa mendengar suara hembusan nafasnya yang khas, membuat dia tak bisa berkonsentrasi belajar. yang lebih spesial dan membuat Nadris kagum, Dipta bisa menggurui dirinya dengan sabar.
kali itu sedang gabut, jam kosong dan tidak ada tugas. "Nad, belajar MTK aja yuk.". jujur, ini pertama kalinya ada laki-laki yang mengajak Nadris belajar MTK bersama. ya, mungkin karena sedang duduk bareng. ok, Nadris langsung menurut dan mengeluarkan buku MTKnya. ditemukannya soal yang menurutnya sulit, awalnya dia ragu bertanya, takut Dipta akhirnya malas mengajari Nadris yang sebenernya agak lemot di pelajaran ini. tapi akhirnya, dia beranikan diri. "ehmm Dip, yang ini gimana ya caranya?" "oohh ini, ini tuh gini gini trus gitu gitu........" Dipta mencoret-coret buku Nadris. deg. apa ini, tiba-tiba mata Nadris membesar melihat kearah tangan Dipta yang sedang menulis dibukunya, jantungnya berdegup tak karuan. "apa ini...... kenapa ini....." dalam hatinya bertanya-tanya. "kerjain aja dulu semuanya, nanti kalo ada yang gak ngerti lagi, tanya gue aja." kata Dipta. Nadris merasa....... istimewa. kemudian, mata Nadris yang sudah minus lumayan parah, membuatnya sedikit sulit melihat tulisan Bu Tati di papan tulis, apalagi kali itu tempat duduknya paling pinggir pojok kiri. "Nad, lu keliatan gak tulisan di papan tulis?" Dipta bertanya, membuyarkan konsentrasi Nadris. "gak terlalu sih hehehe". "sini tukeran, gue pojok, lu sini." deg. apa ini.............. kenapa............ tanpa berkata apa-apa lagi Nadris langsung menurut. jujur, ini memang pertama kalinya ia merasa diperlakukan istimewa seperti itu. atau mungkin pernah...... tapi ia lupa, karena sudah terlalu lama. semenjak 1 minggu duduk bersama Dipta, dimata Nadris semua yang ada pada Dipta sempurna. entahlah, apa rasa ini. sementara Binno.......... setiap ia melewati kelas, semua ingatan tentang Dipta lenyap begitu saja. yang teringat dan terlihat adalah... kenangan ketika Nadris dan Binno bersama... terlalu banyak dan terlalu dekat kenangan indah mereka berdua, yang tak akan bisa Nadris lupakan, meskipun sudah bertemu Dipta. karena mungkin Binno lebih dulu hinggap di hati Nadris. meskipun, yang lebih dulu hadir di kehidupan Nadris adalah Dipta. kesamaan antara Binno dan Dipta yang tidak Nadris sukai adalah, tak sedikit anak perempuan yang mengagumi mereka berdua. itu yang ketahuan, belum yang tidak. Nadris sedih. mengapa ia harus mengagumi sosok yang istimewa dan hebat seperti mereka. mereka punya banyak kesamaan. dan berada dalam 1 ruangan, 1 kelas unggulan Matematika. bersama mereka adalah tantangan sekaligus penghargaan bagi Nadris. tantangannya adalah mereka harus bersaing bertiga untuk mendapatkan hasil sempurna di pelajaran Matematika untuk Ujian Nasional. meskipun kemarin Dipta sudah mendapat nilai 10, dan Binno mendapat nilai 9,75 untuk Ujian Sekolah. itu adalah motivasi tersendiri bagi Nadris. dan penghargaannya adalah... ia bisa lebih semangat untuk belajar Matematika, yang baru saja ia sukai itu. yang baru saja ia taklukan. dan ia takkan berhenti menaklukan pelajaran yang ia tak pernah sangka bisa kuasai itu. ia akan terus berjuang dan fokus terhadap UN, PTN, dan masa depan yang pastinya cerah yang sudah menunggunya. dan ia yakin, Binno dan Dipta juga sedang berada di jalan yang sama, meskipun ia tak pernah tau apakah akan bertemu 2 sosok laki-laki hebat itu di masa depan nanti. entahlah, waktu yang akan menjawab.
**the end**

Tidak ada komentar: